Wednesday, July 25, 2012

Penghianatan I

Aku sedang dalam perjalanan menuju rumah ketika  hape ku berdering.
"Ya, halo?", jawabku
"Apakah ini dengan ibu Ranti?" tanya sebuah suara wanita dari seberang sana.
"Ya, maaf saya bicara dengan siapa ya?" tanyaku
"Maaf bisa, minta waktu sebentar untuk berbicara dengan anda?"tanyanya lagi tanpa menjawab pertanyaaan ku.
"Masalah apa ya, bisa hubungin saya sekitar satu jam lagi, saya sedang mengemudi." jawabku.
"Baiklah satu jam lagi akan saya hubungi lagi, terimakasih selamat siang." jawabnya.
Hm siapa ya tadi itu, dan ada urusan apa ya menelepon aku, yang pasti bukan dari para tele marketing  bank atau asuransi yang sering menelepon untuk menawarkan jasanya. Segera kutambah kecepatan laju kendaraanku untuk memburu waktu agar tidak kesorean sehingga tidak terjebak oleh macetnya kota Jakarta. 

Untunglah perhitungan waktu ku tepat, jadi tidak sampai satu jam aku sudah tiba di rumah tanpa harus merasakan kemacetan yang berarti.  Setelah memarkir mobil ku di garasi, oh anak anak ku belum ada yang pulang rupanya, karena garasi masih kosong. Kesenyapan langsung terasa ketika kumasuki rumahku, tidak ada siapa siapa seperti biasa, hanya si mbok dan tukang kebon di belakang yang ada. Ya merekalah yang sehari hari menemani hari hari ku. Segera kunyalakan televisi untuk mengurangi kesenyapan ini. Teman temanku sering bertanya, apakah aku tidak merasa kesepian tinggal di rumah sebesar ini, sesndirian. Tentu saja aku katakan tidak, karena aku tinggal tidak sendirian, ada suamiku, ada anak anakku, dan dua orang pembanatu, walaupun suami dan anak anakku tidak ada di rumah kalau pagi hari sampai menjelang malam, karena kesibukannya masing masing. Sementara aku, untuk apa merasa kesepian, televisi ada, dan yang terpenting internet yang selalu siap duapuluh empat jam yang bisa aku pakai untuk berselancar di dunia maya, juga buku buku yang bisa mengisi waktu senggangku di rumah. Belum lagi kegiatan-kegiatan sosial di luar rumah yang juga cukup memakan waktu. Jadi kenapa harus kesepian. Aku bisa kok menikmati kesendirian di rumahku. Bahkan sangat bisa dan kadang kadang terlalu sibuk sampai tidak sempat untuk merasa sepi, karena sebenarnya di rumah itu lebih banyak yang bisa dikerjakan dari pada di luar rumah. Tiba tiba handphone ku berdering lagi. Hm, pasti dari wanita tadi.

"Ya, halo"'jawabku
"Dengan ibu Ranti,?"jawab suara tadi.
"Ya, maaf ini dengan siapa ya?" tanyaku
"Saya Lastri, Lastri Bintang" jawabnya. Oh bagaikan mendengar geledek di tengah hari bolong, aku amat sangat terkejut, tapi aku tetap berusaha tenang.
"Maaf, Lastri Bintang siapa ya? tanyaku lagi, walaupun sebenarnya aku sudh bisa menebaknya.
"Saya Lastri istrinya pak Bintang, yang penulis itu." jawabnya lagi. Hm, terjadilah yang sudah aku prediksi akan terjadi.
"Oh ya, ada yang bisa saya bantu bu?, jawabku sekenanya.
"Bu Ranti, bisakah saya bertemu dengan ibu, ada yang sangat saya ingin bicarakan dengan ibu, kalau ibu berkenan dan ada waktu." Aku terdiam cukup lama, mempertimbangkan apakah akan ku kabulkan permintaannya atau ku tolak.
"Halo, bu, kalau ibu tidak berkenan, juga tidak apa apa." terdengar suara diseberang sana yang membuatku terkejut.
"Oh engga, saya bersedia kok, hanya saja saya sedang mencocokan jadwal," jawabku cepat.
"Kapan ya ibu mau ketemu sama saya dan dimana?" tanyaku
"Kalau memungkinkan bagaimana kalau besok, tempatnya terserah ibu?" pintanya. Aku terdiam mencoba menghitung waktu, kalau pagi jam berapa aku harus berangkat dari rumah.
"Hm bagaimana kalau jam duabelasan aja, sekalian makan siang, dan kusebut  sebuah cafe favorite ku karena tempatnya tidak terlalu jauh dari rumahku dan yang penting suasananya sangat nyaman. 
"Baiklah kalau begitu, tapi maaf, dimanakah letak cafe tersebut, boleh minta alamatnya karena saya bukan orang Jakarta." Kusebutkan alamatnya, dan pembicaraan selesai.

Sudah sejak kemarin pikiran ku melayang layang membayangkan apa yang akan terjadi esok, apa yang akan dikatakan wanita itu, Lastri, kepada ku, apa yang ingin dia ketahui tentang aku, dan aku harus bersikap bagaimana, kesan apa yang harus aku tampilkan besok, semua berkecamuk di dalam benakku. Dan sekarang aku sudah disini, di cafe Tifani di daerah Kemang. Sebuah cafe yang tidak terlalu besar tapi suasananya sungguh sangat nyaman, tidak terlalu ramai. Aku memilih duduk agak ke dalam dekat  jendela, cukup terlindung dari tempat duduk yang lain tapi bisa memandang keluar. Lastri belum datang, memang aku sengaja datang lebih awal, sambil menunggu ku pesan minuman. Ternyata aku tak perlu menunggu lama, karena seorang wania setengah baya, bertubuh kecil, bahkan lebih kecil dari aku yang sering dipanggil si kecil karena tubuhku yang mungil, berpenampilan biasa saya tapi cukup menarik,  kuperhatikan  dia mengedarkan pandangannya sebentar, kemudian menatapku dan langsung berjalan menuju aku. Karena memang diantara para pengunjung cafe  hanya aku sendirilah wanita yang duduk sendirian.

"Maaf, apakah ibu, bu Ranti," katanya sambil mengulurkan tangannya mengajak bersalaman. Kusambut uluran tangannya, "Iya, saya Ranti, dan anda bu Lastri kah?"
"Iya saya Lastri". jawabnya. "Silakan duduk bu," kataku mempersilakannya untuk duduk. Ia mengambil tempat persis di depan ku sehingga kami bisa berbicara sambil menatap langsung ke masing masing.

Segera kupanggil pelayan, agar kami bisa memesan makanan dan minuman. "Ayo bu, silakan pesan minuman dan makanannya dulu, baru setelah itu kita bicara", kataku ramah untuk memecah kebekuan diantara kami. Ia memesan nasi goreng, dan orange juice, makanan praktis, yang kalau kata papaku dulu adalah makanan orang putus asa, karena ga tahu mau makan apa ya sudah yang paling gampang adalah nasi goreng, hahahha... Kemudian aku memesan lasagne, yang memang terkenal enak di cafe ini, dan lemon tea. Sambil menunggu pesanan kami diantar, mau tidak mau aku harus berbasa basi dulu. Menanyakan kabar, tinggal dimana, walaupun aku sudah tahu dia tidak tinggal di Jakarta, namanya juga basa basi, terus anaknya berapa, sudah ada yang menikah atau belum dan dia pun balik bertanya hal yang sama dan seterusnya dan seterusnya, tanpa menyinggung sama sekali maksud pertemuan ini apa.

Ketika pesanan kami datang, barangkali karena sudah kehabisan bahan pembcaraan, kami pun makan dengan diam. Hanya saja aku pikir kediaman kami hanyalah kediaman yang semu, masing masing sedang menata hati dan menimbang nimbang apa yang akan dibicarakan nanti.

Makanan kami telah habis kami santap, terjadi keheningan yang terasa janggal, Lastri yang duduk didepanku tampak mulai terlhat gelisah, tampaknya dia mulai menimbang bagaimana memulai pembicaraan. Sementara aku, walaupun dalam hati aku juga merasa gelisah, tapi posisiku disini lebih menguntungkan, dia yang mengundang aku, jadi aku hanya diam saja menunggu.

"Bu Ranti, saya mohon untuk tidak lagi mengganggu rumah tangga saya, dan suami saya", ujarnya memecah keheningan. Walaupun suaranya pelan, tapi terasa sekali ia sedang menahan emosinya untuk tidak meledak, dan ucapannya pun begitu lugas, membuatku sedikit terhenyak. Tidak terlalu terkejut, sudah dapat menduganya. Tapi aku masih diam tidak menjawab perkataannya, hanya kutatap saja, tak tahu harus menjawab apa. Aku masih menimbang nimbang jawaban bijak apa yang harus aku sampaikan. "Bu, bu Ranti," tegurnya lagi, barangkali karena melihat aku diam, makanya dia menegurku.
"Hm,  begini ya bu Lastri, memangnya gangguan seperti apa yang ibu maksud? Karena saya merasa tidak pernah mengganggu rumah tangga ibu apalagi suami ibu."jawabku. Memangnya salah aku kah kalau ada seseorang yang curhat ke aku, atau jatuh cinta padaku. Sementara aku merasa tiak melakukan apa apa selain mendengarkan keluh kesahnya saja.
"Bu Ranti, saya tahu, suami saya sering berhubungan dengan ibu, saling mengirimkan sms, berteleponan, bahkan beberapa kali mengadakan pertemun, saya tahu  semua bu."semburnya sambil tetap berusaha menahan emosinya.
"Jika ibu tahu semua, tahukah ibu kenapa suami ibu mengirim sms pada saya dan  menelepon saya dan ingin bertemu saya, senang berhubungan dengan saya" tanyaku tenang. Dia hanya diam dan menunduk.
'Bu, maaf ya bu, seharusnya sebagai istri ibu juga harus mawas diri, kenapa sampai suami ibu berpaling pada wanita lain. Mengapa suami ibu sampai mengabaikan ibu. Seharusnya kita sebagai wanita harus bisa bercermin. "kataku lugas, Agak sedikit terdengar menyakitkan sih, tapi ini haruslah aku ungkapkan, karena selama ini mas Bintang  sering mengeluhkan kelakuan istrinya yang kurang pantas sebagai seorang istri.
"Bu, saya itu sudah berumah tangga juga, dan memiliki suami yang sangat  baik, penuh pengertian, juga memiliki anak,  untuk apa saya merusak dan mengganggu rumah tangga ibu.?' kataku .
"Mengganggu secara ekonomi, tentu tidak, karena suami saya sudah sangat mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga saya, kepuasan batin, suami saya sangat perkasa dan tampan. Jadi secara logika, motivasi apakah yang menyebabkan saya harus mengganggu suami ibu". lanjutku.

Sekarang dia yang diam, terdiam, tapi aku tahu kediamannya itu adalah karena dia harus mengatur emosinya yang sebentar lagi rasanya bisa meledak, karena yang aku katakan itu semuanya benar. Hm benar sebagian. Memang harus aku akui bahwa aku dan suaminya , itu karena mas Bintang butuh seseorang yang bisa dipercaya tempat curhatnya dan ia merasa nyaman berbicang dengan aku, begitu sih menurut pengakuannya. Sementara aku, entah kenapa, aku juga senang mendengar curhatannya, dan aku merasa senang ketika dia mengatakan itu semua, perasaanku seperti melambung kelangit ketujuh.

Sebenarnya terus terang kami paham sekali posisi kami, siapa kami, jadi kami saling menjaga, agar tatanan yang sudah ada tidak terkoyak. Dia menyadari bahwa aku adalah seorang istri dan ibu dari anak anak remaja yang menjelang dewasa, begitupun aku menyadari siapa dia. Jadi kami saling menjaga. Tetapi kalau sampai istrinya sampai tahu seperti ini ada apa ya, pertanyaan ini terus berkecamuk dihatiku. Memang sudah seminggu lebih kami tidak berhubungan, aku sempat mencoba beberapa kali mengirim sms tapi tidak dibalas, aku tidak mau berburuk sangka aku hanya berpikir barangkali mas Hariadi sedang sibuk dengan buku buku nya yang akan diterbitkan.

Tiba tiba keheningan itu dipecahkan oleh isak tangis Lastri. Aduh untung aku sudah memilih tempat yang tidak mencolok dan agak ke dalam sehingga tidak menarik perhatian para pengunjung yang lain. Tapi ini aduuuh kenapa juga dia musti menangis.

"Maafkan saya bu, saya tahu sebenarnya ini semua salah saya," ujarnya terisak. "Saya sering bertindak tidak pada tempatnya pada mas Bintang. Saya sering marah marah dan membentak bentaknya, di depan anak anak bahkan di depan umum. Saya tahu itu salah. Tapi  sungguh bu, saya masih menyayanginya, saya mencintainya bu, dan saya tidak mau kehilangan dia bu. Jadi tolong bu, jauhi suami saya. Saya juga tahu dia yang mendekati ibu. Dia yang menghubungi ibu. Dia mencintai ibu. Dia membutuhkan ibu. Tapi tolong bu, tinggalkan dia, saya masih sangat sangat menyayangi dan mencintainya bu." berondongnya disela isakannya. Aku hanya diam, tak tahu harus menjawab apa. Kupandangi wanita di depanku, tanpa berkata apa apa.

"Bu Lastri, tak perlu khawatir akan kehilangan suami ibu, atau rumah tangga ibu menjadi rusak karena saya. Karena sebenarnya sudah sejak beberapa tahun yang lalu, sebelum saya dan mas Bintang bertemu, ibu telah kehilangan suami ibu, walaupun tidak secara fisik, dan rumah tangga ibu juga sudah rusak. Dan itu bukan karena saya, tapi ibu sendiri yang merusakannya. Tapi jangan khawatir juga bu, suami ibu tidak akan pernah meninggalkan ibu dan juga anak anaknya demi wanita lain manapun, apalagi kalau ibu pikir wanita itu adalah saya. Tidak, dia tidak akan pernah melakukan itu. Dan saya sendiripun tidak mau merusak rumah tangga saya sendiri yang telah saya bina dan bangun dengan susah payah dengan darah dan air mata, hanya untuk seorang pria, walaupun dia seorang Sang Bintang Timur. Tidak, tidak akan. " jawabku dingin. Minta maaf, karena aku tidak tahu harus menjawab apa, karena tiba tiba saja ada rasa jengkel yang menyeruak di dalam hati, jengkel karena dianggap sebagai perusak rumah tangga orang, jengkel karena disebut perebut suami orang, sementara orang yang melontarkan itu tidak menyadari apa yang telah dia perbuat terhadap suaminya, dan melemparkan kesalahannya pada orang lain, yaitu aku.
Enak saja.

"Memang benar  yang ibu ungkapkan tadi, bahwa ibu telah bersikap tidak pantas pada suami ibu, tapi tahukah ibu, perbuatan  apa yang paling menyakitkan hatinya?' lanjutku "Mas Bintang, tahu kalau ibu telah berselingkuh". kataku dingin. Aku lihat, mukanya berubah pucat pasi, isaknya terhenti seketika, saking terkejutnya barangkali. Aku diam saja, hanya kupandangi dia yang melongo. Akhirnya aku cuma bisa melemparkan senyum padanya. "Masih ada lagikah yang ingin ibu Lastri bicarakan pada saya?" tanyaku.

Dia hanya diam, menatapku nanar, tanpa berkata kata, barangkali dia telah kehilangan kata katanya. Terlalu terkejut barangkali mendengar penuturanku.
"Mas Bintang tahu apa?" bisiknya pelan. "Ya, dia tahu", jawabku. "Jadi kalau memang ibu masih sayang padanya, rubahlah kelakuan ibu, dan minta maaflah padanya, tapi jangan minta saya untuk tidak merusak rumah tangga ibu, karena rumah tangga ibu memang telah rusak, dan bukan saya yang merusaknya tapi ibu sendiri."lanjutku.

Segera kupanggil pelayan untuk membayar pesanan kami. "Dan kalau sudah tidak ada yang ibu perlu bicarakan lagi pada saya, saya permisi dulu." kataku seraya berdiri. Ia pun ikut berdiri dan melangkah pelan mengikuti langkah ku.

"Ibu mau pulang kemana, dan naik apa? tanyaku. "Saya pulang ke arah Bekasi, naik taksi" jawabnya. "Baiklah kalau begitu, aku akan mencarikan taksi untuk ibu"kataku. Aku tidak mau berbasa basi untuk mengantarnya pulang, Bisa mati kutu nanti di dalam mobil karena tidak tahu harus bicara apa.

Kukendarai mobilku perlahan. Masih tidak percaya atas kejadian yang baru saja aku alami barusan.
(bersambung)
























































No comments:

Post a Comment